September 14, 2011

Selembar Malam Jingga




Lagi-lagi ini sebuah kisah tentang suatu malam....it wasnt day when the nite asked me to say good bye..just  anoter nite

Malam seakan-akan ikut senang mengetahui aku akan bertemu dengan dia, bertemu dengannya di taman kota seperti tahun lalu, seperti berbulan-bulan yang lalu. Aku merindukannya, lampu-lampu kota itu pun pasti merindukan senyumku yang hampir selalu ada disana, kecuali malam tahun lalu.

Aku menunggunya, menunggu di bangku taman kota dengan hati yang berdebar-debar bukan main, kedipan bintang-bintang seolah-olah menertawakanku. Aku tak sabar melihat bintang yang sesungguhnya aku nantikan menyapaku dengan sapaan hangat miliknya. Aku diam...masih menunggu, tiba-tiba sentuhan tangan yang sangat aku kenal membuatku mengakhiri penantianku, kedua tangannya menutup sepasang mataku.

Suara lembut mengalun di telinga kanan ku “Kau tak akan lama menunggu”, ucapnya yang membuat jantungku semakin bergemuruh. Ku berikan senyuman terindahku hanya untuknya, hanya untuk pemilik sepasang mata yang tak pernah dapat ku baca dari tiap tatapan matanya. Senyumnya pun ikut merekah dan satu hal yang aku tau, dia menyukai senyuman dariku.


Satu tahun telah berlalu banyak hal telah berubah kecuali perasaanku padanya, kepada bintang yang selalu menemaniku di taman kota dan membut senyum-senym indah di wajahku, bintang itu kini ada ada di hadapanku lagi, masih untuk aku kah sinarnya???
Bersandarku di pundak kukuhnya, dia menggenggamku erat seakan beberapa detik lagi akan kehilanganku. Ohhh tidak, aku harap tidak untuk kedua kalinya bintangku membuat malamku kelam, tidak..tidak lagi. Hatiku menjerit, sungguh takut, nafasku kian berat disela-sela hembusan angin yang sejuk. Dia masih terdiam, aku mencoba menebak-bebak apa yang ada dibenaknya. Dia ingin menyampaikan sesuatu, yah aku yakin, tapi apa???
Berada disisihnya seakan-akan melintas diantara dunia yang berbeda, tiap senyum diwajahnya selalu berarti sesuatu, sesuatu yang amat indah, pandangan matanya yang selalu saja dalam hingga membuatku harus tenggelam untuk menyelami makna kedua bola mata yang begitu indah untukku. Sadarkah dia aku amat memujanya, aku bagaikan patung yang tak berbentuk jika dia tak ada disisihku, dia layaknya pemahat hidupku ketika aku merasa seperti tanah liat yang tak ada gunanya.
Aku mohon, jangan katakan bahwa sinarmu kini bukan untukku lagi, sekian lama kau pergi dan kini kau hadir hanya untuk mengatakan hal itu. Aku mohon jangan....
Dia mendekapku erat dengan satu tangan dan tangan yang lain menujuk kearah bintang-bintang dilangit, “Kau tak perlu cemas, bintang-bintang itu masih tetap bersiar untuk malam, hanya untuk malam, seperti aku disini untukmu”.....

2 komentar:

Just write what U want....xixixi....