Jiwaku terus saja memberontak akhir-akir ini, aku mulai jenuh. Jiwaku dan ragaku mulai tidak sinkron, aku tau jiwakulah yang benar dan dia telah meminta ragaku untuk membuka mata dengan membaca buku-buku yang dapat mengobati kelumpuhan ragaku. Tapi ragaku tak juga menurutinya, jiwaku pun mulai berteriak-teriak untuk memaksa ragaku melakukan hal yang seharusnya dilakukannya, tetapi apa boleh buat,..ragaku tetap saja belum melakukannya.
Aku mulai kesal, ragaku pun mulai lelah begitupun jiwaku. Aku tersadar raga tanpa jiwa bukanlah raga sebenarnya. Jiwa tanpa raga pun tak dapat melakukan apa-apa.
Sejauh ini aku masih bingung bagaimna bisa di bulan yang suci ini aku masih banyak terdiam sedangkan fikiranku sudah meronta-ronta, akupun masih membuang-buang waktuku di kasur empuk itu, tidur. Sementara jiwa dan fikiranku sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengangkatku bangun. Aku malu, malu pada jiwaku sendiri. Lalu siapakah yang menggerakan raga ini jika bukan jiwaku, siapakah? Nafsukukah. Jiwa-jiwa yang lainkah.
Aku harus menyingkronkan lagi jiwa indah dan raga sempurna yang telah di berikan Allah kepadaku. Aku tak boleh menya-nyiakan waktu ini lagi. Ya aku tak boleh begitu (lagi).

